Kamis, 03 Mei 2012

MAKNA SABAR DAN SYUKUR


•.¸.••..❀❀.••.¸ ¸.•.

❀✿ MAKNA SABAR DAN SYUKUR ✿❀


.¸.••. .❀❀.••.¸ ¸.•.



.¸.••. •.❀❀..• ¸.•.

Kehidupan itu adalah suatu harapan,dan rangkaian irama amal yang mengantarkan seseorang pada tujuan hidup,Harapan-harapan itu seharusnya seirama dan mendukung pencapaian tujuan hidup seseorang , namun kenyataan banyak harapan dan tujuan hidup itu tidak saling mendukung sehingga kehidupan berujung pada kekecewaan.Dalam Islam ada rangkaian kata yang begitu indah, yaitu Sabar dan Syukur yang saling terkait dalam membangun realita kehidupan.

Ahli Surga itu sendiri merupakan rangkaian akumulasi amal kita dalam membangun rasa sabar dan syukur ,inilah salah satu kunci ahli surga yang patut kita bina, Sebagai orang yang beriman dan telah menjadikan Islam sebagai pegangan hidup dan tuntunan hidup, tentunya sabar dijadikan salah satu tuntunan akhlaq yang harus dilaksanakan dalam kehidupan ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman :

“Dan siapa saja yang sabar dan mema’afkan, maka itu termasuk amal yang sangat baik” (QS. Asy-Syuraa: 43).

“Pergunakanlah untuk mencapai tujuanmu kesabaran dan shalat. Sesungguhnya ALLAH selalu membantu orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 153).

Menurut Syekh Al Hakim At Tirmidzi”Yang dimaksud dengan syukur adalah menyadari Karunia yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan pada dirinya,sedangkan yang dimaksud dengan sabar adalah tetap dalam kedudukannya bersama Rabb-Nya,Sementara itu dilihat dari segi bahasa,Syukur adalah terbukanya qalbu hingga karunia Rabb tampak padamu.Di dadamu,Karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu terlihat pada sesuatu yang DIA berikan padamu. Diriwayatkan dari Hasan Al Basri bahwa Nabi Musa Alaihi Salam bertanya .”Tuhan,bagaimana cara Adam bersyukur kepada-MU?”Tuhan menjawab,”Dia mengetahui hal itu bersumber dari-KU,itulah bentuk syukurnya.”

Dari Suhaib Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda,

"Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)

Hadits diatas memiliki makna yang luas sekaligus memberikan definisi mengenai sifat dan karakter orang yang beriman. Setiap orang yang beriman digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam’ sebagai orang yang memiliki pesona, yang digambarkan dengan istilah ‘ajaban’. Karena sifat dan karakter ini akan mempesona siapa saja.

Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran merupakan setengahnya keimanan. Sabar memiliki kaitan yang tidak mungkin dipisahkan dari keimanan: Kaitan antara sabar dengan iman, adalah seperti kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana juga tidak ada jasad yang tidak memiliki kepala. Oleh karena itulah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam’, menggambarkan tentang ciri dan keutamaan orang yang beriman sebagaimana hadits di atas.

Namun kesabaran adalah bukan semata-mata memiliki pengertian "nrimo", ketidak mampuan dan identik dengan ketertindasan. Sabar sesungguhnya memiliki dimensi yang lebih pada pengalahan hawa nafsu yang terdapat dalam jiwa insan. Dalam berjihad, sabar diimplementasikan dengan melawan hawa nafsu yang menginginkan agar dirinya duduk dengan santai dan tenang di rumah. Justru ketika ia berdiam diri itulah, sesungguhnya ia belum dapat bersabar melawan tantangan dan memenuhi panggilan Ilahi.

Sabar juga memiliki dimensi untuk merubah sebuah kondisi, baik yang bersifat pribadi maupun sosial, menuju perbaikan agar lebih baik dan baik lagi. Bahkan seseorang dikatakan dapat diakatakan tidak sabar, jika ia menerima kondisi buruk, pasrah dan menyerah begitu saja. Sabar dalam ibadah diimplementasikan dalam bentuk melawan dan memaksa diri untuk bangkit dari tempat tidur, kemudian berwudhu lalu berjalan menuju masjid dan malaksanakan shalat secara berjamaah. Sehingga sabar tidak tepat jika hanya diartikan dengan sebuah sifat pasif, namun ia memiliki nilai keseimbangan antara sifat aktif dengan sifat pasif.

Makna Sabar merupakan sebuah istilah yang berasal dari bahasa Arab, dan sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Asal katanya adalah "Shabar", yang membentuk infinitif (masdar) menjadi "shabran". Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Menguatkan makna.

Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman :

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi : 28)

Perintah untuk bersabar pada ayat di atas, adalah untuk menahan diri dari keingingan ‘keluar’ dari komunitas orang-orang yang menyeru Rabb- Nya serta selalu mengharap keridhaan-Nya. Perintah sabar di atas sekaligus juga sebagai pencegahan dari keinginan manusia yang ingin bersama dengan orang-orang yang lalai dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sedangkan dari segi istilahnya, sabar adalah menahan diri dari sifat kegeundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.

Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam al-Khowas, bahwa sabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan Al-Qur'an dan sunnah. Sehingga sesungguhnya sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidak mampuan. Justru orang yang seperti ini memiliki indikasi adanya ketidak sabaran untuk merubah kondisi yang ada, ketidak sabaran untuk berusaha, ketidak sabaran untuk berjuang dan lain sebagainya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan umatnya untuk sabar ketika berjihad. Padahal jihad adalah memerangi musuh-musuh Allah, yang klimaksnya adalah menggunakan senjata (perang). Artinya untuk berbuat seperti itu perlu kesabaran untuk mengeyampingkan keiinginan jiwanya yang menginginkan rasa santai, bermalas-malasan dan lain sebagainya. Sabar dalam jihad juga berarti keteguhan untuk menghadapi musuh, serta tidak lari dari medan peperangan. Orang yang lari dari medan peperangan karena takut, adalah salah satu indikasi tidak sabar.

Inilah sekelumit sketsa mengenai kesabaran. Pada intinya, bahwa sabar mereupakan salah satu sifat dan karakter orang mu'min, yang sesungguhnya sifat ini dapat dimiliki oleh setiap insan. Karena pada dasarnya manusia memiliki potensi untuk mengembangkan sikap sabar ini dalam hidupnya.

Sabar tidak identik dengan kepasrahan dan menyerah pada kondisi yang ada, atau identik dengan keterdzaliman. Justru sabar adalah sebuah sikap aktif, untuk merubah kondisi yang ada, sehingga dapat menjadi lebih baik dan baik lagi. Oleh karena itulah, marilah secara bersama kita berusaha untuk menggapai sikap ini. Insya Allah, Allah akan memberikan jalan bagi hamba-hamba-Nya yang berusaha di jalan-Nya.

Dari uraian diatas maka keberadaan sabar dan syukur ini bagi umat Islam harusnya mempunyai tempat yang khusus di dalam pribadinya yang diaplikasikan dalam perilaku kehidupan keseharian,lalu bagaimana kita semestinya menempatkan dan membangun rasa sabar dab syukur sebagai kunci surga ini dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Sifat dan perilaku bersyukur ini kita awali dengan mengenal nikmat,karena mengenal nikmat itu adalah jalan untuk mengenal Sang Pemberi nikmat.dalam hal ini “Ibnu Al Qayyim dalam Madaarij Al Salikin menuliskan kalau pengertian syukur ada tiga yaitu : (1).Mengenal nikmat,(2).Menerimanya dan (3).Memujinya. Mengenal nikmat terwujud lewat rasa butuh kepada-Nya,Memuji adalah dengan memuji Zat Yang Memberi nikmat.Wujudnya ada yang bersifat umum (menyadari-Nya sebagai Zat Yang Maha Pemurah dan banyak memberi) dan yang bersifat khusus (menceritakan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan lewat dirinya).

Adapun sabar ini adalah wujud ujian untuk melihat kebaikan dan keburukan,dengan cara seperti itu,tentu akan terlihat diri kita apakah tetap teguh dihadapan-Nya.dan juga menampakkan gambaran kejujuran seseorang,yakni apakah kita benar-benar bersyukur kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman :

“Dalam semua kejadian itu terdapat bukti kekuasaan ALLAH bagi orang yang selalu sabar dan bersyukur”.(Q.S. Ibrahim : 15).

Dari ayat tersebut diatas terlihat jelas bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mendahulukan sabar sebelum syukur, karena sikap sabar memperlihatkan rasa syukur. Syukur tersebut tersimpan didalamnya,sebagaimana api tersembunyi di dalam batu. Ujian ibarat sebatang kayu yang memunculkan api lewat bara.Ketika batu tersebut dinyalakan,maka tampaklah api yang tersembunyi tadi.

Sahabat-sahabat yang di Rahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,demikian semoga manfaat buat kita semua, Yang benar haq semua datang-Nya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,yang kurang dan khilaf mohon sangat dimaafkan ’’Akhirul qalam “Wa tawasau bi al-haq Watawa saubil shabr “.Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala . senantiasa menunjukkan kita pada sesuatu yang di Ridhai dan di Cintai-NYA....Aamiin Allahuma AAmiin.


.••Walhamdulillah Rabbil’alamin ••.


❀❀Ukhti,,Akhi.. Sahabat Ukhuwah fillah ALL ❀❀.

Dalam album ini ada beberapa foto dengan catatan yang sama , Silakan di Tag/Share….Semua untuk Umat dan Syiar Islam, Silakan saling bantu Tag sahabat-sahabat yang lain, Kunjungi page kami dibawah ini dan klik ''Like/Suka'' untuk Bergabung.
Jazzakumullahu khayran wa Barakallahu fiikum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Free Air Plane Cursors at www.totallyfreecursors.com